Preview pergerakan dibuat dalam format movie/sequence (playblast/preview quality) sesuai prosedur.
Melaksanakan proses pergerakan
Durasi pergerakan ditentukan sesuai storyboard/animatic.
Pergerakan objek digital dikerjakan sesuai storyboard/animatic.
Proses pengerjaan disimpan secara berkala dilakukan (progresive file).
Menyiapkan komponen/objek/model sesuai storyboard
Objek digital non character dan alur pergerakan diidentifikasi berdasarkan storyboard/animatic.
Controller gerak digital diuji coba pada komponen/objek/model yang akan digerakan.
Aset objek digital yang bergerak diidentifikasi sesuai kebutuhan storyboard.
Membuat model 3D berbasis Hard Surface
Mengidentifikasi desain produksi kedalam format bentuk 3D (3D hardsurface model)
Deskripsi desain model terpilih diidentifikasi sesuai production design.
Shot/scene/sequences storyboard diidentifikasi untuk mendapatkan level of detail pemodelan.
Proporsi,dimensi dan volume desain diidentifikasi sesuai informasi model sheet.
Topologi permukaan objek/bentuk diidentifikasi sesuai volume desain terpilih.
Teknik pengerjaan dipilih sesuai desain, tools, hardware dan waktu pengerjaan.
Membuat pemodelingan 3D teknik hardsurface
Gambar tampak disusun pada bidang 3D sesuai orientasi bentuk yang ingin diprojectsikan.
Base mesh 3D dibuat sesuai proporsi bentuk desain produksi.
Topology mesh dibuat sesuai struktur permukaan objek.
Kepadatan polygonal disiapkan sesuai level of detail mesh yang ingin dicapai.
Permukaan objek dibuat sesuai sifat hardsurface suatu benda.
Penamaan element objek dibuat sesuai deskripsi bentuk/objek/karakter yang terpilih.
Ketepatan ukuran dan volume bentuk dibuat sesuai gambar desain produksi.
Penamaan file dibuat sesuai prosedur produksi.
Proses pengerjaan disimpan secara berkala (progressive file).
Membuat pencitraan gambar digital (rendering)
Mengidentifikasi pengunaan render engine pada pipeline produksi
Workflow sistem kerja render engine diidentifikasi sesuai pipeline produksi.
Output kualitas, render style dan timeline kerja diidentifikasi sesuai prosedur.
Jumlah elemen render (render pass) ditentukan sesuai prosedur.
Kapasitas hardware diidentifkasi untuk mengetahui kapasitas render yang bisa dihasilkan (kecepatan, metode distribusi, jaringan kerja, kapasitas penyimpanan).
Test render dilakukan dengan memilih dari shot/scene/sequences untuk mengukur kapasitas waktu dan output akhir.
Mengatur setting render dan organisir data hasil akhir
Pengaturan parameter rendering dilakukan sesuai ouput kualitas.
Durasi proses rendering diidentifikasi sesuai kompletisitas shot/scene/sequences dan timeline produksi.
Pengaturan distribusi rendering dilakukan.
Penamaan, jenis format serta metode penyimpanan data file render dilakukan sesuai prosedur.
Membuat artistik pencahayaan 3D (set lighting)
Mengidentifikasi kebutuhan pencahayaan 3D sesuai pengadeganan terpilih dan rancangan desain produksi
Shot/Scene/Sequences Storyboard diidentifikasi untuk mendapatkan informasi sudut pengambilan gambar, pergerakan kamera dan arah cahaya.
Concept art dijadikan acuan untuk mendapatkan mood dan esensi visual.
Production Design (karakter/ property/ environment) terpilih diidentifikasi untuk mendapatkan acuan visual.
Proporsi, dimensi dan volume dari asset 3D diidentifikasi.
Esensi pengadeganan diidentifikasi untuk mendapatkan gambaran visual dari virtual set yang akan diberi pencahayaan.
Rendering engine diidentifikasi untuk kebutuhan pipeline kerja.
Teknik pengerjaan dipilih sesuai desain, tools, hardware dan waktu pengerjaan.
Membuat artistik pencahayaan (3D) pada (set) adegan terpilih
Tipe pencahayaan dipilih sesuai esensi pengadeganan storyboard.
Penempatan artistik cahaya dibuat sesuai reference visual (mood) yang dipilih (concept art/production design).
Capaian artistik cahaya diuji coba oleh render engine.
Penamaan file dibuat sesuai SOP produksi.
Proses pengerjaan disimpan secara berkala (progressive file).
Membuat Setting-an sifat bahan 3D (shading)
Menerapkan sifat permukaan (shading) pada objek 3D
Teknik shading (procedural/non procedural) sesuai render engine ditentukan sesuai pipeline produksi.
Hasil sifat permukaan (shading) dianalisis dalam bentuk preview sesuai referensi bahan yang dipakai.
Hasil akhir sifat permukaan dinamakan sesuai unsur bahan/nama bahan/nama elemen.
Penyimpanan file kerja dilakukan secara berkala (progressive file).
Mengidentifikasi sifat permukaan pada objek 3 Dimensi sesuai konsep desain
Sifat bahan pada permukaan benda/objek terplilih diidentifikasi.
Render engine dalam pipeline produksi diidentifikasi.
Referensi bahan terpilih dianalisis.
Area permukaan diidentifikasi sesuai sifat shading yang terdapat apa area tersebut.
Membuat artistik sudut pandang kamera 3D
Mengidentifikasi kebutuhan sudut pandang kamera dari pengadeganan terpilih
Shot/Scene/Sequences Storyboard /animatic diidentifikasi untuk mendapatkan informasi sudut pengambilan gambar, jenis lensa maupun pergerakan kamera.
Production design (karakter/ property/enviroment) terpilih diidentifkasi untuk mendapatkan referensi visual.
Proporsi, dimensi dari asset 3D diidentifikasi.
Esensi pengadeganan diidentifikasi untuk mendapatkan gambaran visual dari virtual set yang akan dilihat dari sudut pandang gambar.
Teknik pengerjaan dipilih sesuai desain, tools, hardware dan waktu pengerjaan.
Membuat artistik pengambilan adegan dari sudut pandang kamera dibidang 3D
Penempatan (staging) kamera 3D dibuat sesuai sudut pandang yang terdapat dalam Shot/Scene/Sequences Storyboard /animatic.
Tipe lensa kamera 3D dipilih sesuai esensi pengadeganan storyboard.
Setingan lensa kamera 3D dibuat sesuai esensi pengadeganan yang dipilih.
Penamaan file dibuat sesuai SOP produksi.
Proses pengerjaan disimpan secara berkala (progressive file).
Membuat simulasi gerak digital benda (rigid/softbody)